Tulisan 2
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Aliran Psikoanalisa.
Orang yang pertama kali berusaha
merumuskan psikologi manusia dengan memperhatikan struktur jiwa manusia adalah
Sigmund Freud. Freud memperlihatkan peran dorongan tak sadar dan
konflik-konflik batin manusia dalam menyebabkan bermacam-macam gangguan
kepribadian. Penjelasan-penjelasan tentang kepribadian yang diutarakan oleh
psikoanalisa mengemukakan bahwa kehidupan mental seorang individu khususnya
cara-cara kerja dari alam tak sadar menjelaskan banyak tingkah lakunya. Dan apa
yang dibuat seseorang terhadap dirinya dari masa bayi sampai masa dewasa
sebagian besar tergantung pada kemampuannya untuk mengendalikan energi-energi
psikis yang dimilikinya. Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil
interaksi tiga sub sistem dalam kepribadian manusia yang disebutnya id, ego,
dan superego. Id adalah bagian
kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia, atau disebut
juga pusat insting (hawa nafsu). Ego berfungsi menjembatani tuntutan-tuntutan
id dengan realitas di dunia luar. Sedangkan superego adalah kepolisian yang
mewakili dunia ideal.
Aliran behavioristik.
Behavioristik lahir sebagai reaksi terhadap introspeksi (menganalisis jiwa
manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif). Behavioristik hanya ingin
menganalisis perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan
diramakan. Aliran behaviorisme (behaviorist) menaruh perhatian pada peranan
penghargaan (reward) maupun hukuman (punishment) dalam mempertahankan atau
mengurangi kecenderungan munculnya perilaku tersebut. Para penganut aliran
behaviorisme ini tidak melibatkan pikiran atau kondisi mental untuk menjelaskan
perilaku. Mereka memilih berpegang teguh pada hal yang dapat diobservasi dan
diukur secara langsung, yakni berbagai tindakan dan peristiwa yang muncul dalam
lingkungan tertentu.
Pemikiran behaviorisme sebenarnya sudah dikenal sejak Aristoteles yang
berpendapat bahwa, pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa sama
seperti meja lilin (tabularasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Kemudian John
Locke meminjam konsep ini. Menurut mereka, pada waktu lahir, manusia tidak mempunyai
warna mental. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah jalan
satu-satunya ke arah penguasaan pengetahuan. Secara psikologis, ini berarti
bahwa seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh
pegalaman indrawi. Pikiran dan perasaan bukan penyebab perilaku manusia, tetapi
disebabkan oleh perilaku masa lalu.
Kaum Behaviorisme juga berpendapat bahwa organisme dilahirkan tanpa
sifat-sifat sosial atau psikologis, perilaku adalah hasil pengalaman, dan
perilaku digerakan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan
dan mengurangi penderitaan. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedangkan
kaum behaviorisme hanya melihat pada peristiwa-peristiwa yang “kasat mata”
dalam arti yang dapat diamati atau bersifat eksternal.
Aliran Humanistik
Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi
pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behavioralisme. Dalam pandangan
psikologi humanistik mengambil banyak dari psikoanalisis neo-Freudian seperti Adler,
dan Jung, serta banyak mengambil pemikiran dari fenomenologi dan
eksistensialisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan”
yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subjektif. Setiap orang mengalami
dunia dengan caranya sendiri. Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam
pengalaman orang lain.
Menurut aliran humanistik
kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang
terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan
pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk
belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan
respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian
sehat adalah mengaktualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu
yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri
adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena
setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala
sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan
kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli
psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus
dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia
juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang
secara potensial menghambat.
Daftar Pustaka
wade Carole, Tavris Carol.Edisi
Kesembilan.psikologi.Jakarta :
Erlangga
Rochman,Kholil Lul.2010.Kesehatan Mental.Purwokerto : Fajar Media Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar